fbpx

Emirat Islam Afghanistan: Bagian-III (Terakhir)

Berita Terkait

Iskandar Hadrianto
Iskandar merupakan alumnus Salzburg Diplomatic Academy, United Nations University Leadership Academy (UNU-LA) dan Asia Pacific Center for Security Studies (APCSS), Komando Indo-Pasifik, USA.

“AS keluar dari Afghanistan, China-PRC menggantikan. Iran dan Russia menyusul”

Post mortem:

Pasukan AS bersama sekutu NATO resmi menyatakan keluar dari Afghanistan. Kesepakatan itu ditandangani AS bersamaTaliban Februari 2021. Penarikan diri pasukan AS setelah perang 20 tahun itu membuka pintu bagi Taliban dan pihak luar. Melansir laman kantor berita Anadolu, Rabu (14/7/2021), Taliban menyebut China-PRC sebagai negara “bersahabat”. Mereka menegaskan akan menyambut baik investasi Beijing dalam pembangunan kembali Afghanistan setelah dilanda perang. “Kami menyambut baik mereka (China). Jika mereka memiliki investasi tentu kami menjamin keamanan mereka. Keamanan mereka sangat penting bagi kami,” kata juru bicara Taliban Suhail Shasheen, dalam wawancara baru-baru ini dengan harian South China Morning Post sebagaimana dikutip Anadolu. “Kami telah mendatangi China berkali-kali dan kami memiliki hubungan baik dengan mereka,” kata Shaheen. “China adalah negara sahabat yang kami sambut untuk pembangunan dan pengembangan Afghanistan,” imbuh dia.

Masuknya China-PRC:

Pernyataan menyambut investasi China dari Taliban itu datang ketika pasukan AS dan sekutu NATO menyatakan keluar dari Afghanistan setelah perang selama 20 tahun. AS dan Taliban menandatangani kesepakatan pada Februari 2021, membuka jalan bagi pasukan asing untuk menarik diri dari Afghanistan, pembebasan tahanan, mengeluarkan para pemimpin Taliban dari daftar hitam, dan menuntut dukungan internasional untuk membangun kembali negara itu.

Keluarnya pasukan asing telah menyebabkan Taliban meningkatkan tekanan pada pemerintahan di Kabul di mana mereka merebut kendali banyak distrik dari pemerintah Afghanistan yang dipimpin Presiden Ashraf Ghani. Selain mengambil alih kuasa di distrik-distrik, Taliban melanjutkan diplomasi mereka dengan baru-baru ini mengirim delegasi ke Iran dan Russia.

‘Kami tak akan biarkan tanah Afghanistan digunakan lawan negara lain’, Jurubicara Taliban itu mengatakan kelompoknya tidak akan mengizinkan “kelompok separatis, termasuk Gerakan Islam Turkistan Timur atau ETIM, beroperasi di Afghanistan. “Ya, itu tidak akan diizinkan masuk,” ucap Shaheen menekankan. Jubir Shaheen juga mengatakan kelompoknya tak akan membiarkan pihak dari negara lain menggunakan Afghanistan sebagai tempat untuk melancarkan serangan terhadap negara lain. “Kami telah membuat komitmen bahwa kami tidak akan mengizinkan mereka baik itu individu maupun entitas terhadap negara mana pun termasuk China,” jelasnya. “Ini adalah komitmen kami di bawah perjanjian Doha. Kami mematuhi kesepakatan itu,” imbuh Shaheen.

Tahun 2020, Washington menghapus ETIM dari daftar kelompok terrornya. Ini membuat marah Beijing yang menganggap kelompok tersebut diduga mengobarkan masalah di Xinjiang, di mana China telah dituduh mengasimilasi budaya dan tradisi etnis Uyghur, yang sebagian besar adalah Muslim.

Janji Taliban:

Betul Taliban “mewarisi al-Qaeda” dari pemerintahan mantan Presiden Afghanistan Burhanuddin Rabbani, kata Shaheen. “Al-Qaeda milik era masa lalu dan tidak akan diizinkan beroperasi di negara ini lagi,” ungkap dia. Menyusul kepergian pasukan AS, kami perlu mengadakan pembicaraan dengan Beijing, tutur juru bicara Taliban itu.
“Kami sempat mengizinkan (al-Qaeda) untuk tinggal di Afghanistan karena mereka tidak memiliki tempat di negara lain,” kata juru bicara Taliban, sambil menekankan bahwa “sekarang tidak ada lagi anggota al-Qaeda di Afghanistan.”

“Kami tidak akan mengizinkan perekrutan terbuka atau pusat pelatihan atau penggalangan dana apa pun untuk kelompok mana pun di Afghanistan,” imbuhnya.

What’s next:

Sumber intelijen mengatakan, “Let the Afghans deal with their own situation …..” – biarlah kini bangsa Afghan urus diri-sendiri. Upaya AS dan sekutunya untuk membangun Afganistan pasca Taliban (dulu) sudah gagal. Info intelijen dan militer jaman Trump ungkapkan bahwa regime Ghani telah berhasil membangun militer yang kuat dan ditargetkan dapat menghadapi Taliban via guyuran dana 80 milyar dollar lebih ternyata bohong – Nol Besar. Disebutkan, katanya banyak di korup. Atas dasar itu AS lantas menyatakan akan menarik mundur pasukannya yang sebenarnya tidak disetujui oleh Inggris … dan ternyata Taliban dapat melibas mereka dengan mudahnya. Jadi, semua laporan bahwa militer Afganistan sudah cukup siap ternyata hanya isapan jempol. Sekali lagi, AS mengambil kebijakan atas dasar informasi yang salah.

Sumber intelijen termaksud melanjutkan, bukan pertama kali kalau pada tiap “urusan” AS senantiasa mengandalkan pada info yang salah. “Like I always said: Jews and Arabs are liars, and the Americans are the one who believe them….”

Masyarakat Internasional kini hanya bisa menunggu janji Taliban dan prospek kerjasama Emirat Islam Afghanistan dengan China-PRC, Iran dan Federasi Russia. Semoga jadi ‘blessing in disguise’ yang mampu membantu Rakyat Afghan untuk membangun Negeri secara mandiri (vide: zonder pendudukan Pasukan Asing)

- Advertisement -

Berita Terkini