fbpx

Emirat Islam Afghanistan: Bagian-II

Berita Terkait

Iskandar Hadrianto
Iskandar merupakan alumnus Salzburg Diplomatic Academy, United Nations University Leadership Academy (UNU-LA) dan Asia Pacific Center for Security Studies (APCSS), Komando Indo-Pasifik, USA.

Baca artikel sebelumnya: Emirat Islam Afghanistan: Bagian-I

Akhirnya Presiden Ghani meninggalkan Kabul dengan pesawat bersama istrinya, Rula Ghani, dan dua pembantu dekatnya dan tiba di Uzbekistan, menurut seorang anggota delegasi Afghanistan di Doha, Qatar, yang telah melakukan negosiasi damai dengan Taliban sejak tahun 2020. Pejabat yang meminta agar namanya tidak disebutkan ungkap pergerakan presiden. Namun tak dapat dipastikan apakah Ghani berada di Uzbekistan, sebab ada laporan bahwa dia telah pergi ke negara lain. Dalam video Facebook, Abdullah, mantan kepala eksekutif pemerintah Afghanistan, mengkritik Ghani karena melarikan diri. “Bahwa mantan presiden Afghanistan telah meninggalkan negara dan rakyatnya dalam situasi yang buruk ini, Tuhan akan meminta pertanggungjawabannya dan rakyat Afghanistan akan membuat penilaian mereka,” kata Abdullah dalam video tersebut.

Dalam negosiasi yang dikelola oleh Mr. Abdullah Abdullah, Mr. Ghani dijadwalkan lakukan perjalanan ke Doha pada hari Minggu dengan kelompok yang lebih besar untuk merundingkan transfer kekuasaan, tetapi justru terbang ke Uzbekistan, kata anggota delegasi perdamaian. Ghani menolak tekanan agar mundur. Dalam rekaman pidato siaran Sabtu, Ghani berjanji “mencegah ketidakstabilan lebih lanjut” dan menyerukan “memobilisasi kembali” militer Afghan. Namun sang presiden semakin terkucil, dan kata-katanya seolah terlepas dari kenyataan di sekitarnya. Desas-desus tersebar luas; informasi akurat sulit didapat; Sabtu siang hari jalanan dipenuhi pemandangan kepanikan dan keputusasaan.

“Salam, Taliban telah kuasai kota. Kami melarikan diri,” kata Sahraa Karimi, aktivis perfilman Afghanistan, via posting di Facebook. Memfilmkan dirinya sendiri saat dia melarikan diri dengan berjalan kaki, kehabisan napas dan mencengkeram jilbabnya, Sahraa berteriak pada orang lain untuk melarikan diri selagi mereka bisa. “Hei wanita, gadis, jangan pergi ke sana!” katanya.

Wais Omari (20) pedagang kaki lima di kota itu, mengatakan situasinya sudah mengerikan dan dia khawatirkan masa depan Afghanistan. “Jika semakin parah, saya akan bersembunyi di rumah saja,” katanya.

- Advertisement -

Berita Terkini