fbpx

Alumni Mahasiswa Indonesia di Rusia Gelar Acara Alumni Week Bertema ‘Designing Indonesia 2045 through Indonesian Eyes in Russia’

PROPUBLIK – Perhimpunan Mahasiswa Indonesia di Rusia (Permira) mengadakan kegiatan Alumni Week selama 3 hari dengan mengusung tema ‘Designing Indonesia 2045 Through Indonesian Eyes in Russia’. Kegiatan ini diadakan sebagai tempat  bertukar pandangan dan cerita antara mahasiswa Indonesia di Rusia dengan para alumni.

Teguh Imanullah selaku Ketua Permira Pusat membuka kegiatan ini dan turut menyampaikan bahwa saat ini terdapat  634 Mahasiswa Indonesia di Rusia yang mencakup seluruh jenjang pendidikan S1, S2 maupun S3.

Terdata pula sekitar 8000 pendaftar telah berkompetisi memperebutkan beasiswa Rusia pada tahun 2021 ini menurut data Pusat Kebudayaan Rusia. Dengan hal ini diharapkan Alumni Week dapat mempererat hubungan silaturahmi antarseluruh Mahasiswa, calon Mahasiswa dengan para alumni.

Duta Besar Republik Indonesia untuk Federasi Rusia merangkap Republik Belarus, Jose Tavares turut hadir sebagai keynote speaker menjelaskan bahwa kegiatan Alumni Week ini sangat bagus karena menjadi wadah saling tukar-menukar pengalaman dan mempertebal keyakinannya bahwa ilmu pengetahuan yang diraih para mahasiswa memiliki nilai yang tinggi terhadap pembangunan Indonesia kedepannya.

Dubes Tavares menambahkan bahwa walaupun jumlah alumni mahasiswa Indonesia di Rusia tidak banyak dibanding alumni mahasiswa Indonesia di negara lain tetapi tren lulusan mahasiswa Indonesia di Rusia itu sangat bagus bahkan beberapa mahasiswa berhasil memiliki hak paten dalam bidang teknologi.

Beliau memberi pesan kepada para mahasiswa untuk terus mempertahankannya dan ‘jangan sampai kendor’ karena segala ilmu yang diperoleh masih bisa dikembangkan lagi terutama untuk Bahasa Rusia yang benar-benar harus dikuasai secara maksimal.

Mengetahui bahwa Rusia merupakan negara yang maju di bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK), maka Dubes Tavares berharap para alumni dapat terus membangun relasi dengan mahasiswa Indonesia di Rusia dan dosen-dosen di Rusia sehingga kedepannya bisa terbentuk semacam forum yang mewadahi para ahli dibidang penelitian dan pengembangan teknologi antara Indonesia dan Rusia.

Kegiatan Alumni Week Day 1 mengangkat tema ‘The Foundation of Indonesian Students in Russia’ yang dihadiri oleh 3 Narasumber, yaitu:

  1. Dr. Soesilo Toer – Sastrawan, Alumni Institut Perekonomian Rakyat Plekhanov, Uni Soviet 1973.
  2. Letkol CAJ Rafdy Saiful, S.S., M.A. –  Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat, Pendiri dan Ketua Permira 1998 – 2000, Alumni RUDN Moskow, 1997-2000.
  3. Widya Priyahita Pudjibudojo, Ph.D – Staf Khusus Menteri Sekretaris Negara RI,  Alumni The Russian Presidential Academy of National Economy and Public Administration (RANEPA), 2016-2018.

Dr. Soesilo Toer awalnya ingin berkuliah di Amerika Serikat, mengingat beliau merupakan lulusan terbaik Akademi Keuangan di Bogor. Namun, dikarenakan terjadi keterlambatan, maka beliau memilih untuk mengambil jalan lain, yaitu melanjutkan kuliah di Uni Soviet.

Dr. Soesilo Toer terlambat 2 bulan saat kedatangannya pertama kali di Uni Soviet sehingga beliau harus menebus ketertinggalan tersebut dengan belajar dari jam 9 pagi sampai 12 malam tiap harinya.  Di luar kegiatan kuliah, Dr. Soesilo Toer aktif bekerja sebagai editor, penulis berita dan penerjamah bahasa.

Berbekal memiliki sertifikat penerjamah bahasa dan kegemaran membaca literatur-literatur Rusia membuat Dr. Soesilo Toer berhasil meraih PhD dalam waktu 1,5 tahun, lebih cepat 6 bulan dibanding waktu normal pada saat itu. Beliau juga memiliki setidaknya 12 piagam penghargaan selama masa pendidikannya di Uni Soviet.

Pengalamannya selama di Uni Soviet menginspirasi dirinya menulis karya-karya sastra, diantaranya:  ‘Dari Blora ke Rusia’ dan ‘Dari Blora ke Siberia’ yang mengisahkan kisahnya berpetualang di wilayah-wilayah Uni Soviet bahkan negara Eropa lainnya, contohnya Inggris, Jerman, dan Italia. Dr. Soesilo Toer tidak memilih mengikuti banyak orang yang setelah lulus kuliah menetap di luar negeri karena beliau hanya mau meninggal dan dikuburkan di tempat kelahirannya.

Kini Dr. Soesilo Toer aktif mengurus perpustakaan jalanan dan membantu orang-orang yang memiliki kesulitan di bidang kepenulisan. Beliau berharap bahwa hal itu bisa membantu masyarakat untuk semakin giat membaca dan menulis.

Letkol Rafdy Saiful menjelaskan bahwa berkuliah di Rusia merupakan tantangan tersendiri karena kondisi iklim yang ekstrim dan bahasanya yang sangat sulit. Pada saat itu, beliau dan beberapa teman-temannya sepakat untuk membentuk organisasi mahasiswa Indonesia di Rusia, yang kemudian dikenal dengan nama Permira (Perhimpunan Mahasiswa Indonesia di Rusia) yang terinspirasi dari nama Perhimpunan Mahasiswa Indonesia di Amerika Serikat (Permias).

Nama tersebut bertujuan untuk menaruh harapan agar mahasiswa Indonesia tidak mau kalah dengan semangat mahasiswa Indonesia di Amerika Serikat. Letkol Rafdy Saiful kemudian diangkat menjadi Ketua Permira yang Pertama dan meletakkan fondasi awal Permira sebagai tempat silaturahmi dan tolong-menolong antarmahasiswa.

Berkuliah di masa transisi (reformasi) membuat beliau terus memantau kondisi sosio-politik Indonesia saat itu. Semasa Kuliah, Letkol Rafdy Saiful aktif ikut serta dalam kegiatan-kegiatan yang diadakan oleh KBRI Moskow, seperti: Malam Budaya Indonesia, Konferensi Diplomasi Indonesia-Rusia, Bazar bangsa-bangsa dll.

Berbeda dengan 2 narasumber sebelumnya yang berbica mengenai ‘masa lalu’, Widya Priyahita lebih tertarik berbagi tentang pandangan ‘masa depan’. Beliau memberi contoh Dubai yang berubah sangat drastis dari ‘tanah tandus’ menjadi ‘metropolitan’ dalam 26 tahun.

“Kalau kita menjadi passive object, maka kita akan kalah dan tidak relevan. Kalau kita jadi agile learner, maka kita akan survive. Kalau kita jadi game changer, maka kita akan menang”, tegas Widya Priyahita.

Beliau menjelaskan bahwa dunia berubah sangat cepat. Setiap 1 menit ada 41 juta pesan Whatsapp yang dikirimkan, ada 300 ribu foto yang di posting di Instagram, ada 200 ribu konferensi melalui Zoom dll. Dunia digital berperan besar terhadap perkembangan dunia kedepannya karena kita telah memasuki era ‘Revolusi 4.0’.

Revolusi 4.0 ini berdiri diatas 3 pilar, yaitu:

  1. Internet of Things (IoT): Wearables, Big Data, AI, Blockchain, Augmented/Virtual Reality.
  2. Cyber-Physical: Autonomous vehicle, 3D Printing, Advanced Robotics, New Materials.
  3. Bio-Technology: Gene Sequencing/ Edit DNA, Synthetic Biology, Personalized medical treatments, ‘New’ Neuroscience.

Widya Priyahita menekankan bahwa penguasaan teknologi di era disrupsi saat ini menjadi kunci kemajuan. Beliau memberi contoh seperti  Facebook, Uber, Alibaba, Airbnb sebagai kesempurnaan dari kolaborasi melihat tren dunia dan keahlian dalam bidang teknologi. Beliau meyakini bahwa kemajuan teknologi bukan hal yang harus ditakuti tapi justru sebaliknya, kita perlu mempersiapkan diri kita untuk bekerja sama dengan mesin.

“Kita hidup di situasi VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity). Hal tersebut membuat segala hal bisa berubah sangat cepat dengan tidak jelas sehingga menuntut kita untuk mengubah cara hidup, cara bekerja, cara belajar, cara berbisnis, dll”, tambah beliau.

Widya Priyahita mengajak para mahasiswa untuk berkembang menjadi seorang ‘Game Changer’ sehingga bisa menang dalam kompetisi dunia.  Jangan sampai keahlian yang kita miliki bukan bagian dari apa yang dunia butuhkan kedepannya. Beliau menyampaikan pesan kepada para teman-teman mahasiswa untuk belajar 2 skill paling penting dalam era VUCA, yaitu ‘learn how to learn and learn how to unlearn what you’ve learned’.

***

- Advertisement -

Berita Terkini